Dari Hobi Untuk Bumi
Bersepeda : Dari Hobi Untuk Bumi
Kompas Sabtu, 23 Februari 2008 Suplemen Jawa Barat
Oleh Yulvianus Harjono
Macet dan polusi. Dua penyakit kota besar termasuk Kota Bandung. Dari hari ke polusi kian kronis. Berangkat dari hobi, segelintir komunitas memilih meniti perubahan dengan mulai bersepeda. Mereka bersepeda ke kantor, kampus, ataupun sekolah.
Pehobi sepeda membentuk komunitas. Salah satunya adalah komunitas Bike to Work (B2W) Chapter Bandung. Sejak dideklarasikan 5 September 2007, B2W aktif memasyarakatkan penggunaan moda transportasi ramah lingkungan itu untuk berbagai aktivitas, khususnya bekerja. Dalam waktu tiga bulan, komunitas itu memiliki 84 anggota.
Mayoritas anggota adalah para profesional atau orang kantoran. Salah satunya, Satiya Adi Wasana (30). Hampir setahun ini pegawai Laboratorium PT Bio Farma tersebut menggarasikan mobil sedan dan motornya. Pria yang biasa disapa Tiyo ini memilih bersepeda Cimahi-Pasteur sejauh 30 kilometer pergi-pulang. Ia mendapat sederet manfaat yang tidak diperolehnya dari moda transportasi bermesin.
“Bisa mengurangi polusi dan konkret untuk menyelamatkan bumi dari ancaman pemanasan global,” kata Tiyo. “Kita ke kantor sekalian berolahraga. Tidak perlu lagi meluangkan waktu untuk fitness. Perusahaan pun diuntungkan karena pegawainya sehat-sehat. Saya pun makin pede ikut check-up kesehatan,” tutur Ketua B2W Chapter Bandung ini saat ditemui di bawah jembatan layang Cikapayang, Jumat (22/2).
Bersepeda mengurangi stres akibat jalan macet. Dibandingkan kota lain, menjadi bicyclist di Bandung sedikit lebih enak. Udaranya masih sejuk, terutama pagi dan siang hari. Pepohonan rindang dan taman-taman kota sebagai tempat nongkrong juga masih banyak. “Sayangnya, teman-teman masih banyak melihat kontur Bandung yang berbukit-bukit sebagai kelemahan,” ujarnya.
Hemat biaya
Bagi Mochamad Hardi (34), anggota B2W, kontur naik-turun itu justru menjadi tantangan. Karena tinggal di Dago Atas, Hardi hanya meluncur saja saat berangkat ke kantor. “Dibandingkan naik angkot, bersepeda bisa 10 menit lebih cepat. Pulangnya memang menanjak, berkeringat. Tetapi, justru sehat,” kata pegawai negeri dari Departemen Pendidikan Nasional ini.
Ada pula keuntungan ekonomis. Dibandingkan naik mobil, mereka bisa menghemat biaya hingga Rp 300.000 per bulan. Satu-satunya kendala adalah polusi. “Juga bau badan di kantor,” kata salah seorang anggota B2W. Untuk mengatasi ini, Tiyo dan kawan-kawan punya senjata ampuh, yaitu tisu basah atau deodoran. Perlengkapan itu sama pentingnya dengan peralatan keselamatan semacam helm, kacamata, sarung tangan, pelindung siku, dan masker. “Pacar kedua”
Tidak ada syarat jenis sepeda untuk menjadi anggota B2W. “Mau mountain bike, full suspension, cruiser, bahkan sepeda mini, silakan bergabung,” katanya. Harga sepeda pun bervariasi, mulai Rp 1,5 juta hingga Rp 25 juta per unit. Jika sudah jatuh cinta, tidak sedikit biker yang rela mengoleksi beragam sepeda. Sampai-sampai, menjadikannya sebagai pacar kedua. “Filosofinya, work for bike, bekerja untuk sepeda. Dapat uang, untuk utak-atik dan upgrade sepeda,” kata pemilik beragam jenis sepeda ini.
Beragam informasi tentang jenis, teknologi, produk terbaru, suku cadang, hingga jual-beli sepeda biasa mereka peroleh dari situs www.sepedaku.com. B2W Chapter Bandung hanya satu dari segelintir subkultur pehobi sepeda di Bandung. Di sudut-sudut Kota Kembang telah bermunculan komunitas bersepeda, seperti Bike Commuter Bandung, Biketography (fotografer), Dirtjump, hingga Lowrider.
Di beberapa kampus, muncul komunitas sepeda yang mengusung misi serupa, antara lain Kelompok Pengendara Sepeda di Universitas Jenderal Achmad Yani. Ada pula Ganesha Bicycler di ITB yang bahkan hampir mengegolkan pendirian halte sepeda di kampus. Kampanye sepeda adalah tujuan mereka. Satu visi pun dibidik, yaitu dari hobi untuk bumi, ekonomi, dan kesehatan.
Saat ini komunitas Bike to Work Chapter Bandung telah memiliki 84 anggota dari kalangan pekerja di Kota Bandung. Anggota komunitas Bike to Work Chapter Bandung berkumpul di bawah jembatan layang Pasupati, Jalan Surapati, Kota Bandung, Jumat (22/2).









Recent Comments